Perkembangan usaha ritel pada saat ini sangatlah pesat, sehingga persaingan menjadi sangat kompetitif. Kondisi persaingan menuntut pemilik bisnis ritel harus mampu mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi dan tanggap mengadaptasi bisnis mereka. Keberadaan ritel-ritel di Indonesia juga masih begitu diperhatikan dalam konteks perilaku belanja konsumen, adanya perubahan dalam pola berbelanja masyarakat yang semakin selektif, selain itu juga karena adanya perubahan cara pandang konsumen terhadap bisnis ritel itu sendiri. Bisnis ritel yang secara tradisional dipandang sebatas penyedia barang dan jasa telah berkembang menjadi tidak sekedar tempat berbelanja tetapi juga tempat rekreasi dan bersosialisasi, sebagai konsekuensinya bisnis ritel yang semula dikelola secara tradisional berubah menjadi bisnis yang semakin inovatif, dinamis, dan kompetitif (Suhartanto dan Nuralia, 2001). Tuntutan tersebut sangat rasional, mengingat telah terjadi perkembangan konsep berbelanja masyarakat di Indonesia, khususnya Yogyakarta.
Dengan potensi yang ada menyebabkan banyaknya industri yang bergerak di sektor ritel mencoba meningkatkan kompetisi yang ada untuk tetap dapat bersaing dan merebut pasar yang ada di Yogyakarta. Berikut beberapa contoh ritel-ritel yang meramaikan pasar persaingan di Yogyakarta yaitu Hypermarket, Carrefour, Hero pasar swalayan, Superindo, Indomaret, Alfamart, Circle K, dan Mirota. Dilihat dari label usaha, sebagian besar ritel modern yang ada di kota Yogyakarta dimiliki oleh jaringan franchise besar. Dari sebanyak 19 supermarket, 17 diantaranya adalah milik jaringan franchise supermarket internasional dan nasional, sedangkan untuk minimarket, franchise dengan merek Indomaret, Alfamart dan Circle K mendominasi usaha ritel di Yogyakarta, hal ini disampaikan oleh ketua Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PUSKAT) Yogyakarta, Awan Santosa.
Jika pada awalnya banyak bisnis ritel yang cukup dikelola secara tradisional, tanpa dukungan teknologi yang memadai, tanpa pendekatan manajemen modern dan tanpa berfokus pada kenyamanan dan keinginan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, maka seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi serta tuntutan kebutuhan konsumen yang terus meningkat menjadi pendorong adanya perubahan orientasi bisnis dalam lingkup bisnis ritel. Seperti yang telah dijelaskan di atas dengan semakin kompetitifnya persaingan antar pelaku bisnis ritel dan perilaku konsumen yang cepat berubah maka penyediaan barang kepada pelanggan telah menjadi semakin kompleks dan tanpa sistem yang efisien dan efektif dari komunikasi, kolaborasi dan koordinasi, akan sulit untuk mengidentifikasi masalah dan merespon dengan cepat ke perubahan permintaan pelanggan. Mengingat hal tersebut maka pengelolaan bisnis ritel dalam skala besar maupun skala kecil membutuhkan kesiapan pengelolaan dalam Supply Chain Management (SCM) yang efisien.
Oleh karena kondisi yang demikian maka diperlukan suatu sistem pencarian material/produk digudang barang jadi dengan sistem entry data yang cepat, tepat dan efisien. Kecepatan hasil pencarian material/produk dan entry data yang sudah terjamin keabsahannya akan diintegrasikan ke dalam sebuah sistem yang telah mempunyai integrasi semua unit proses bisnis, hal ini membantu dalam mengurangi biaya operasi bisnis. Salah satu cara untuk menumbuhkan kekuatan persaingan perusahaan adalah dengan mengadopsi suatu teknologi informasi agar dapat menetapkan dan memastikan kecepatan informasi dengan tepat dan efisien.
Salah satu cara yang digunakan pada bisnis ritel dalam integrasi rantai pasokan yang paling sering digunakan adalah penggunaan barcode system, yaitu dengan tujuan :
1. Lebih efisien dalam pengendalian persediaan.
2. Meningkatkan koordinasi aliran produk.
3. Mengurangi pemalsuan atau pencurian.
4. Dukungan dan perangkat teknologi.
5. Persaingan bisnis.
6. Kecepatan proses.
7. Konsistensi dan kepercayaan.
Menggunakan teknologi barcode di dalam praktek persediaan memungkinkan mendapatkan informasi yang lebih akurat dan tepat waktu sehingga membantu dalam kegiatan operasi dengan efesiensi gudang yang lebih besar dan persediaan yang lebih rendah.
Joshi G. (2009) mendefinisikan Supply Chain Management (SCM) sebagai pengelolaan atau manajemen organisasi yang saling berkaitan dan saling berhubungan satu sama lain, artinya perusahaan memerlukan integrasi dalam rantai pasokannya. Integrasi rantai pasokan menciptakan hubungan antara perusahaan dengan konsumen, pemasok, dan anggota saluran distribusi lainnya, integrasi ini juga memberikan perubahan paradigma dari hubungan konvesional ke arah kooperatif dan kemitraan bisnis jangka panjang. Secara keseluruhan penelitian ini menganalisis bagaimana para pelaku bisnis ritel khususnya di Yogyakarta dalam lingkungan yang saat ini perusahaan harus tetap kompetitif dan dapat mengadopsi pendekatan-pendekatan inovatif seiring dengan berkembang pesatnya teknologi informasi maupun komunikasi untuk keberhasilan manajemen rantai pasokan terintegrasi yang sangat penting.
Teknologi Barcode system dalam implementasinya sampai saat ini masih cukup mendominasi berbagai bidang, dilihat dari berbagai keunggulan diantaranya adalah terjangkau, mudah digunakan, dan akurat. Keunggulan ini membuat barcode system banyak digunakan dalam manajemen rantai suplai, sehingga hampir semua jenis industri menggunakan barcode dalam identifikasi produknya, yang paling sering dijumpai tentunya adalah penggunaan barcode di ritel waralaba. Saat ini perusahaan tidak hanya membutuhkan teknologi yang tepat untuk memenuhi persyaratan aplikasi mereka, mereka harus terlebih dahulu memutuskan apa teknologi yang paling optimal untuk bisnis mereka yang telah dikembangkan (Christensen, 2007 ; Datalogic, 2009).
Menerapkan barcode system telah terbukti menjadi jawaban yang paling hemat biaya dalam manajemen rantai pasokan. Seiring kemajuan jaman, inovasi teknologi informasi diyakini memegang kunci untuk sebuah usaha bisnis yang sukses dan perusahaan yang kurang dalam melakukan sebuah inovasi teknologi sekarang mereka menemukan diri mereka pada kerugian tersendiri. Teknologi barcode system membantu melacak produk dan jasa yang mereka identifikasi , oleh karena itu memberikan semua informasi yang diperlukan tentang rantai pasokan. Setiap titik dari rantai pasokan melibatkan vendor dan supplier yang harus mampu menyediakan rincian secara tepat dan benar.
Penggunaan barcode system akan memastikan informasi secara rinci dan benar yang pada akhirnya membantu untuk mengurangi biaya, akurasi dan kecepatan barcode membantu dalam mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh pengawasan secara manual atau entri data yang salah, penggunaan barcode dapat mengontrol tinggkat persediaan pada tingkat yang rendah jadi persediaan dapat diisi ulang hanya ketika diperlukan. Tidak ada keraguan bahwa barcode pemindaian lebih dapat diandalkan dibandingkan data manual, menghasilkan tingkat akurasi jauh lebih tinggi pada kecepatan tinggi dan akurasi dalam rantai pasokan terutama di tahap manufaktur adalah yang terpenting (Zebra Teknologi, 2002).
Barcode system akan terus bertahan dan masih memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang paling utama yaitu mudah sebab media yang di gunakan adalah kertas dan tinta, sedangkan untuk membaca barcode ada begitu banyak pilihan dengan harga yang relatif murah mulai dari yang berbentuk pena (wand), slot, scanner, sampai ke cd. Untuk membaca kode barcode dibutuhkan suatu alat (atau komputer). Kode barcode dengan warna contrast (biasanya hitam di atas putih) sangat mudah dikenali oleh sensor optik CCD atau laser yang ada pada alat pemindah, untuk kemudian diterjemahkan oleh komputer menjadi angka. Pada pelaksanaannya penggunaan teknologi barcode ini masih mengalami beberapa kendala dalam hal pembuatan maupun identifikasi kode barcode yang ada. Hal ini dikarenakan kode-kode yang ada di barcode tidak dapat diartikan secara manual, tetapi memerlukan alat bantu lain yaitu scanner sebagai barcode reader, namun baik printer barcode maupun scanner hanya berfungsi untuk menterjemahkan kode-kode angka biasa menjadi angka yang mempunyai arti. Bentuk barcode ada dua jenis, yaitu :
1. Barcode satu dimensi (1D)
Barcode 1 dimensi biasanya dinamakan linier barcode (kode berbentuk baris).
2. Barcode 2 dimensi (2D)
Barcode 2 dimensi ini memiliki beberapa keuntungan dibandingkan linier barcode ( barcode satu dimensi) yaitu dengan menggunakan barcode dua dimensi informasi atau data yang besar dapat disimpan di dalam suatu ruang (space) yang lebih kecil.
Standar jenis barcode yang sering digunakan :
a) Code 39, sebagai simbolik yang paling populer di dunia barcode non-retail, dengan variabel digit yang panjang. Namun saat ini code 39 makin sedikit dipergunakan dan digantikan dengan Code 128 yang lebih mudah dibaca oleh pemindai.
b) Universal Product Code (UPC)-A, terdiri dari 12 digit, yaitu 11 digit data, 1 check digit : untuk kebutuhan industri retail.
c) UPC-E, terdiri dari 7 digit, yaitu 6 digit data, 1 check digit : untuk bisnis retail skala kecil.
Proses kerja barcode system pada retail yang berjalan secara on line berlangsung di bagian depan (counter), penerimaan (receiving), pemesanan (ordering), maupun pengendalian (controlling/stock opname) barang yang ditangani oleh bagian Merchantdising yang terhubung (on line) dengan pemasoknya. Kemudian untuk memenuhi kebutuhan pesanan dari peretail biasanya pemasok menginformasikan ke bagian pergudangan (Warehousing) untuk mengirim barang sesuai dengan pesanan pengecer tersebut (Hill dan Cameron, 2000).
Dibalik biaya yang cukup besar untuk diinvestasikan di bidang Barcode ternyata ada keuntungan yang sangat besar yang bisa diperoleh dengan menerapkan teknologi Barcode. Adapun keuntungan dari penerapan Barcode adalah sebagai berikut :
1. Memudahkan pendataan Asset dengan System Database
2. Mengatasi masalah Redudansi Data ( Kerangkapan Data )
3. Keamanan Data lebih terjaga
4. Mempercepat proses perhitungan penyusutan Asset
5. Proses pengambilan keputusan lebih cepat dan akurat dengan penyajian informasi laporan yang cepat, tepat dan akurat.
6. Penerapan Barcode System sehingga memudahkan dan mempercepat proses Stock Opname Asset dengan menggunakan Portable Data Terminal (PDT) yang sudah terintegrasi dengan Aplikasi Inventory Asset
7. Program dapat dijalankan secara Multi User
8. Produktivitas kerja lebih efektif dan efisien
9. Penyajian informasi yang Real Time
10. Pendataan Asset yang lebih terstruktur
Dengan potensi yang ada menyebabkan banyaknya industri yang bergerak di sektor ritel mencoba meningkatkan kompetisi yang ada untuk tetap dapat bersaing dan merebut pasar yang ada di Yogyakarta. Berikut beberapa contoh ritel-ritel yang meramaikan pasar persaingan di Yogyakarta yaitu Hypermarket, Carrefour, Hero pasar swalayan, Superindo, Indomaret, Alfamart, Circle K, dan Mirota. Dilihat dari label usaha, sebagian besar ritel modern yang ada di kota Yogyakarta dimiliki oleh jaringan franchise besar. Dari sebanyak 19 supermarket, 17 diantaranya adalah milik jaringan franchise supermarket internasional dan nasional, sedangkan untuk minimarket, franchise dengan merek Indomaret, Alfamart dan Circle K mendominasi usaha ritel di Yogyakarta, hal ini disampaikan oleh ketua Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan (PUSKAT) Yogyakarta, Awan Santosa.
Jika pada awalnya banyak bisnis ritel yang cukup dikelola secara tradisional, tanpa dukungan teknologi yang memadai, tanpa pendekatan manajemen modern dan tanpa berfokus pada kenyamanan dan keinginan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, maka seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi serta tuntutan kebutuhan konsumen yang terus meningkat menjadi pendorong adanya perubahan orientasi bisnis dalam lingkup bisnis ritel. Seperti yang telah dijelaskan di atas dengan semakin kompetitifnya persaingan antar pelaku bisnis ritel dan perilaku konsumen yang cepat berubah maka penyediaan barang kepada pelanggan telah menjadi semakin kompleks dan tanpa sistem yang efisien dan efektif dari komunikasi, kolaborasi dan koordinasi, akan sulit untuk mengidentifikasi masalah dan merespon dengan cepat ke perubahan permintaan pelanggan. Mengingat hal tersebut maka pengelolaan bisnis ritel dalam skala besar maupun skala kecil membutuhkan kesiapan pengelolaan dalam Supply Chain Management (SCM) yang efisien.
Oleh karena kondisi yang demikian maka diperlukan suatu sistem pencarian material/produk digudang barang jadi dengan sistem entry data yang cepat, tepat dan efisien. Kecepatan hasil pencarian material/produk dan entry data yang sudah terjamin keabsahannya akan diintegrasikan ke dalam sebuah sistem yang telah mempunyai integrasi semua unit proses bisnis, hal ini membantu dalam mengurangi biaya operasi bisnis. Salah satu cara untuk menumbuhkan kekuatan persaingan perusahaan adalah dengan mengadopsi suatu teknologi informasi agar dapat menetapkan dan memastikan kecepatan informasi dengan tepat dan efisien.
Salah satu cara yang digunakan pada bisnis ritel dalam integrasi rantai pasokan yang paling sering digunakan adalah penggunaan barcode system, yaitu dengan tujuan :
1. Lebih efisien dalam pengendalian persediaan.
2. Meningkatkan koordinasi aliran produk.
3. Mengurangi pemalsuan atau pencurian.
4. Dukungan dan perangkat teknologi.
5. Persaingan bisnis.
6. Kecepatan proses.
7. Konsistensi dan kepercayaan.
Menggunakan teknologi barcode di dalam praktek persediaan memungkinkan mendapatkan informasi yang lebih akurat dan tepat waktu sehingga membantu dalam kegiatan operasi dengan efesiensi gudang yang lebih besar dan persediaan yang lebih rendah.
Joshi G. (2009) mendefinisikan Supply Chain Management (SCM) sebagai pengelolaan atau manajemen organisasi yang saling berkaitan dan saling berhubungan satu sama lain, artinya perusahaan memerlukan integrasi dalam rantai pasokannya. Integrasi rantai pasokan menciptakan hubungan antara perusahaan dengan konsumen, pemasok, dan anggota saluran distribusi lainnya, integrasi ini juga memberikan perubahan paradigma dari hubungan konvesional ke arah kooperatif dan kemitraan bisnis jangka panjang. Secara keseluruhan penelitian ini menganalisis bagaimana para pelaku bisnis ritel khususnya di Yogyakarta dalam lingkungan yang saat ini perusahaan harus tetap kompetitif dan dapat mengadopsi pendekatan-pendekatan inovatif seiring dengan berkembang pesatnya teknologi informasi maupun komunikasi untuk keberhasilan manajemen rantai pasokan terintegrasi yang sangat penting.
Teknologi Barcode system dalam implementasinya sampai saat ini masih cukup mendominasi berbagai bidang, dilihat dari berbagai keunggulan diantaranya adalah terjangkau, mudah digunakan, dan akurat. Keunggulan ini membuat barcode system banyak digunakan dalam manajemen rantai suplai, sehingga hampir semua jenis industri menggunakan barcode dalam identifikasi produknya, yang paling sering dijumpai tentunya adalah penggunaan barcode di ritel waralaba. Saat ini perusahaan tidak hanya membutuhkan teknologi yang tepat untuk memenuhi persyaratan aplikasi mereka, mereka harus terlebih dahulu memutuskan apa teknologi yang paling optimal untuk bisnis mereka yang telah dikembangkan (Christensen, 2007 ; Datalogic, 2009).
Menerapkan barcode system telah terbukti menjadi jawaban yang paling hemat biaya dalam manajemen rantai pasokan. Seiring kemajuan jaman, inovasi teknologi informasi diyakini memegang kunci untuk sebuah usaha bisnis yang sukses dan perusahaan yang kurang dalam melakukan sebuah inovasi teknologi sekarang mereka menemukan diri mereka pada kerugian tersendiri. Teknologi barcode system membantu melacak produk dan jasa yang mereka identifikasi , oleh karena itu memberikan semua informasi yang diperlukan tentang rantai pasokan. Setiap titik dari rantai pasokan melibatkan vendor dan supplier yang harus mampu menyediakan rincian secara tepat dan benar.
Penggunaan barcode system akan memastikan informasi secara rinci dan benar yang pada akhirnya membantu untuk mengurangi biaya, akurasi dan kecepatan barcode membantu dalam mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh pengawasan secara manual atau entri data yang salah, penggunaan barcode dapat mengontrol tinggkat persediaan pada tingkat yang rendah jadi persediaan dapat diisi ulang hanya ketika diperlukan. Tidak ada keraguan bahwa barcode pemindaian lebih dapat diandalkan dibandingkan data manual, menghasilkan tingkat akurasi jauh lebih tinggi pada kecepatan tinggi dan akurasi dalam rantai pasokan terutama di tahap manufaktur adalah yang terpenting (Zebra Teknologi, 2002).
Barcode system akan terus bertahan dan masih memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang paling utama yaitu mudah sebab media yang di gunakan adalah kertas dan tinta, sedangkan untuk membaca barcode ada begitu banyak pilihan dengan harga yang relatif murah mulai dari yang berbentuk pena (wand), slot, scanner, sampai ke cd. Untuk membaca kode barcode dibutuhkan suatu alat (atau komputer). Kode barcode dengan warna contrast (biasanya hitam di atas putih) sangat mudah dikenali oleh sensor optik CCD atau laser yang ada pada alat pemindah, untuk kemudian diterjemahkan oleh komputer menjadi angka. Pada pelaksanaannya penggunaan teknologi barcode ini masih mengalami beberapa kendala dalam hal pembuatan maupun identifikasi kode barcode yang ada. Hal ini dikarenakan kode-kode yang ada di barcode tidak dapat diartikan secara manual, tetapi memerlukan alat bantu lain yaitu scanner sebagai barcode reader, namun baik printer barcode maupun scanner hanya berfungsi untuk menterjemahkan kode-kode angka biasa menjadi angka yang mempunyai arti. Bentuk barcode ada dua jenis, yaitu :
1. Barcode satu dimensi (1D)
Barcode 1 dimensi biasanya dinamakan linier barcode (kode berbentuk baris).
2. Barcode 2 dimensi (2D)
Barcode 2 dimensi ini memiliki beberapa keuntungan dibandingkan linier barcode ( barcode satu dimensi) yaitu dengan menggunakan barcode dua dimensi informasi atau data yang besar dapat disimpan di dalam suatu ruang (space) yang lebih kecil.
Standar jenis barcode yang sering digunakan :
a) Code 39, sebagai simbolik yang paling populer di dunia barcode non-retail, dengan variabel digit yang panjang. Namun saat ini code 39 makin sedikit dipergunakan dan digantikan dengan Code 128 yang lebih mudah dibaca oleh pemindai.
b) Universal Product Code (UPC)-A, terdiri dari 12 digit, yaitu 11 digit data, 1 check digit : untuk kebutuhan industri retail.
c) UPC-E, terdiri dari 7 digit, yaitu 6 digit data, 1 check digit : untuk bisnis retail skala kecil.
Proses kerja barcode system pada retail yang berjalan secara on line berlangsung di bagian depan (counter), penerimaan (receiving), pemesanan (ordering), maupun pengendalian (controlling/stock opname) barang yang ditangani oleh bagian Merchantdising yang terhubung (on line) dengan pemasoknya. Kemudian untuk memenuhi kebutuhan pesanan dari peretail biasanya pemasok menginformasikan ke bagian pergudangan (Warehousing) untuk mengirim barang sesuai dengan pesanan pengecer tersebut (Hill dan Cameron, 2000).
Dibalik biaya yang cukup besar untuk diinvestasikan di bidang Barcode ternyata ada keuntungan yang sangat besar yang bisa diperoleh dengan menerapkan teknologi Barcode. Adapun keuntungan dari penerapan Barcode adalah sebagai berikut :
1. Memudahkan pendataan Asset dengan System Database
2. Mengatasi masalah Redudansi Data ( Kerangkapan Data )
3. Keamanan Data lebih terjaga
4. Mempercepat proses perhitungan penyusutan Asset
5. Proses pengambilan keputusan lebih cepat dan akurat dengan penyajian informasi laporan yang cepat, tepat dan akurat.
6. Penerapan Barcode System sehingga memudahkan dan mempercepat proses Stock Opname Asset dengan menggunakan Portable Data Terminal (PDT) yang sudah terintegrasi dengan Aplikasi Inventory Asset
7. Program dapat dijalankan secara Multi User
8. Produktivitas kerja lebih efektif dan efisien
9. Penyajian informasi yang Real Time
10. Pendataan Asset yang lebih terstruktur

Tidak ada komentar:
Posting Komentar