Selasa, 26 April 2016

Broken Hearted Man : Ketika Logika Lebih Dominan Dari Pada Perasaan Saat Mengakhiri sebuah Hubungan





Bagaimana bisa senyum-senyum sendiri setelah mengingat kejadian-kejadian menyakitkan dimasa lalu?? Wow, how did this happen?? rasanya seperti bercermin melihat muka seperti badut terus ngetawain diri sendiri.Ya begitulah gambaran bagaimana kita menyikapi sebuah kejadian dimasa lalu akan tetapi hal itu dianggap bodoh setelah kita menyadarinya sekarang.(let me think that for a moment)... Yupss, mungkin inilah tanda bahwa telah terjadi tahap pendewasaan setelah menghadapi masalah-masalah tersebut.
Anggap saja kejadian-kejadian yang menyakitkan merupakan masalah yang harus kita hadapi meskipun diluar sana banyak teori-teori bagaimana kita menanggapi sebuah masalah namun belum tentu kita bisa melakukannya saat kejadian itu benar-benar sedang terjadi pada diri kita. Duh Gusti udah sampe gosong ini hati kok gak dibalik balik.... balik donk hehehe.  Seperti ada pertarungan antara perasaan dan pemikiran, perasaan ditekan terus oleh pemikiran namanya hati digituin ya diem aja cuman bisa ngerasain (dasar otak gak berperasaan) Opps.. Nampaknya logika lebih dominan dari pada perasaan dalam menghadapi masalah artinya logika lebih memilih kebenaran daripada kebahagiaan, dalam ilmu psikologi logika lebih cenderung kepada apa yang di anggap benar sedangkan perasaan lebih kepada kesenangan atau kebahagiaan. Jadi boleh dibilang rela menderita perasaan karena lebih memilih apa yang dianggap benar, logikanya... kebenaran yang menyakitkan lebih dipilih daripada kebahagiaan yang tak akan membuat nyaman (nah loh ketahuan melogika). banyak orang bilang kalo cowok lebih pake logika daripada perasaan dalam menghadapi masalah,iya gak sih? *iyainajabiarcepet :))





Sakitnya keterlaluan gak mau diajak sembuh, woi udahan woi capek....!! Logika sang pencari kebenaran say hello to perasaan yang menginginkan kebahagiaan, rasanya ingin sejenak berhenti berlogika biar gak lupa caranya bahagia (?) hehehe... . You would probably be a little sad for a week or so, and then perfectly happy again, right? I love myself more and I wouldn’t lose myself! Menyadari bahwa sepenuhnya yang menentukan kebahagiaan adalah diri sendiri disini logika sudah mampu membujuk perasaan untuk bisa mengerti bahwa kebenaran juga punya hak untuk bahagia, apalah artinya kebahagiaan tanpa kebenaran.
Logika dan perasaan dalam asmara dari Pantonanews dan Bonar13’s : Perasaan adalah hal yang paling menjebak dalam sebuah gejolak cinta. mitos tentang cinta itu buta tidak mesti ada jika kita mampu mengelola perasaan kita untuk tidak terlalu membuncah sebelum saatnya. Perasaanlah yang melahirkan rindu, resah, gundah, gelisah, egoisme dan sejuta hasrat yang mematikan nurani. Terlalu banyak mempercayakan keputusan cinta kita pada perasaan hanya akan membuat kita menjadi orang yang lemah. Berapa banyak kasus patah hati, putus asa, hilang semangat hidup, dendam hingga bunuh diri disebabkan cinta yang tak kesampaian. Semua itu bisa terjadi karena eksistensi perasaan terlalu mendominasi di dalam diri kita. Inilah mengapa banyak orang mengatakan cinta itu buta, Cinta itu buta karena kita telah membutakan hati nurani kita dengan perasaan yang terlanjur kita penjarakan diatas hawa nafsu kita sendiri

Logika adalah sisi lain yang menemani langkah fitrah perasaan, ibarat kita sedang naik sebuah kendaraan. Perasaan adalah gas penambah kecepatan kendaraan kita maka logika akan bekerja sebagai remnya. Dengan adanya logika kita jadi bisa berpikir panjang tentang semua efek dan kemungkinan yang baik ataupun yang buruk tentang pilihan hidup kita. Dari logika lahir pertimbangan, analisa, perencanaan hingga kehati – hatian. Setelah perasaan dan logika maka kita perlu mesin penggerak jiwa yang lain. Dialah hati kita, perasaan lahir karena sentuhan hati begitu juga logika yang berprasangka baik lahir karena hati yang jauh dari penyakit.

Pastikanlah sebelum kita membuka perasaan kita, sebelum kita mengejewantah dalam setiap pertimbangan cinta kita, pastikan bahwa hati kita dalam posisi yang bersih dan netral. Tidak berpihak pada pengharapan untuk memiliki, tidak juga skeptis dan merasa tidak layak untuk memiliki. Perasaan dan logika ibarat dua sisi timbangan, maka hati adalah tiang penyeimbangnya. Jika ia sedikit bergeser ke kanan, maka sisi kiri akan terasa lebih berat begitu juga sebaliknya.