Bagaimana bisa senyum-senyum sendiri
setelah mengingat kejadian-kejadian menyakitkan dimasa lalu?? Wow, how did this
happen?? rasanya seperti bercermin melihat muka seperti badut terus ngetawain
diri sendiri.Ya begitulah gambaran bagaimana kita menyikapi sebuah kejadian
dimasa lalu akan tetapi hal itu dianggap bodoh setelah kita menyadarinya
sekarang.(let me think that for a moment)... Yupss, mungkin inilah tanda bahwa
telah terjadi tahap pendewasaan setelah menghadapi masalah-masalah tersebut.
Anggap saja kejadian-kejadian yang menyakitkan merupakan masalah yang harus
kita hadapi meskipun diluar sana banyak teori-teori bagaimana kita menanggapi
sebuah masalah namun belum tentu kita bisa melakukannya saat kejadian itu
benar-benar sedang terjadi pada diri kita. Duh Gusti udah sampe gosong ini hati
kok gak dibalik balik.... balik donk hehehe. Seperti ada pertarungan
antara perasaan dan pemikiran, perasaan ditekan terus oleh pemikiran namanya
hati digituin ya diem aja cuman bisa ngerasain (dasar otak gak berperasaan)
Opps.. Nampaknya logika lebih dominan dari pada perasaan dalam menghadapi
masalah artinya logika lebih memilih kebenaran daripada kebahagiaan, dalam ilmu
psikologi logika lebih cenderung kepada apa yang di anggap benar sedangkan
perasaan lebih kepada kesenangan atau kebahagiaan. Jadi boleh dibilang rela
menderita perasaan karena lebih memilih apa yang dianggap benar, logikanya...
kebenaran yang menyakitkan lebih dipilih daripada kebahagiaan yang tak akan
membuat nyaman (nah loh ketahuan melogika). banyak orang bilang kalo cowok
lebih pake logika daripada perasaan dalam menghadapi masalah,iya gak sih?
*iyainajabiarcepet :))
Sakitnya keterlaluan gak
mau diajak sembuh, woi udahan woi capek....!! Logika sang pencari kebenaran say
hello to perasaan yang menginginkan kebahagiaan, rasanya ingin sejenak berhenti
berlogika biar gak lupa caranya bahagia (?) hehehe... . You would
probably be a little sad for a week or so, and then perfectly happy again,
right? I love myself more and I wouldn’t lose myself! Menyadari bahwa
sepenuhnya yang menentukan kebahagiaan adalah diri sendiri disini logika sudah
mampu membujuk perasaan untuk bisa mengerti bahwa kebenaran juga punya hak untuk
bahagia, apalah artinya kebahagiaan tanpa kebenaran.
Logika dan perasaan dalam asmara dari Pantonanews dan Bonar13’s : Perasaan adalah hal yang paling menjebak dalam sebuah gejolak
cinta. mitos tentang cinta itu buta tidak mesti ada jika kita mampu mengelola
perasaan kita untuk tidak terlalu membuncah sebelum saatnya. Perasaanlah yang
melahirkan rindu, resah, gundah, gelisah, egoisme dan sejuta hasrat yang
mematikan nurani. Terlalu banyak mempercayakan keputusan cinta kita pada
perasaan hanya akan membuat kita menjadi orang yang lemah. Berapa banyak kasus
patah hati, putus asa, hilang semangat hidup, dendam hingga bunuh diri
disebabkan cinta yang tak kesampaian. Semua itu bisa terjadi karena eksistensi
perasaan terlalu mendominasi di dalam diri kita. Inilah mengapa banyak orang
mengatakan cinta itu buta, Cinta itu buta karena kita telah membutakan hati
nurani kita dengan perasaan yang terlanjur kita penjarakan diatas hawa nafsu
kita sendiri
Logika adalah sisi lain
yang menemani langkah fitrah perasaan, ibarat kita sedang naik sebuah
kendaraan. Perasaan adalah gas penambah kecepatan kendaraan kita maka logika
akan bekerja sebagai remnya. Dengan adanya logika kita jadi bisa berpikir
panjang tentang semua efek dan kemungkinan yang baik ataupun yang buruk tentang
pilihan hidup kita. Dari logika lahir pertimbangan, analisa, perencanaan hingga
kehati – hatian. Setelah perasaan dan logika maka kita perlu mesin penggerak jiwa
yang lain. Dialah hati kita, perasaan lahir karena sentuhan hati begitu juga
logika yang berprasangka baik lahir karena hati yang jauh dari penyakit.
Pastikanlah sebelum kita
membuka perasaan kita, sebelum kita mengejewantah dalam setiap pertimbangan
cinta kita, pastikan bahwa hati kita dalam posisi yang bersih dan netral. Tidak
berpihak pada pengharapan untuk memiliki, tidak juga skeptis dan merasa tidak
layak untuk memiliki. Perasaan dan logika ibarat dua sisi timbangan, maka hati
adalah tiang penyeimbangnya. Jika ia sedikit bergeser ke kanan, maka sisi kiri
akan terasa lebih berat begitu juga sebaliknya.

